Ekonomi Kita, Indonesia
Hmmm, bincang ekonomi dikit ah, maklum kayaknya lagi ngehits nih ngomongin ekonomi menjelang pilpres. Wah bahas ekonomi atau politik nih? dah ekonomi aja, walaupun mungkin sulit untuk tidak nyenggol-nyenggol politik.
Ketertarikan saya membahas ekonomi tidak lepas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal ini menurut saya penting untuk kita hadapi, dan sikapi bersama. Tidak bisa lho kita anggap nothing, toh buktinya tim ekonomi pemerintah "panik" juga ketika tembus 15 ribu, bukan masalah 15 ribunya, tapi fakta-fakta internal yang mendukung hal itu seperti defisitnya neraca dagang kita, dan juga implikasi ekonomi ke depan dalam hal ini inflasi. Cocok lah sama salah satu urusan kita masing-masing yaitu menyelamatkan ekonomi keluarga.
Jika kita cinta rupiah tapi rupiah melemah, makin berat loch memenuhi keinginan kita membeli Iphone X atau Galaxy Note 9. Lho koq contohnya beli Smartphone Mahal? karena kalau contohnya beli telur atau ayam, pasti ada yang kontra, bilang gak ada ngaruhnya sama dolar lah, bilang orang kaya tapi pura-pura miskin lah, dan lain-lain. Saya menikmati suasana pro dan kontra, tapi malas menghadapinya. Hahaha.
Baik, bahasan kita di tulisan ini fokus terhadap GDP per kapita dalam US Dollar. Nyambung ya dengan melemahnya rupiah, nyambung juga dengan bahasan ekonomi keluarga, karena GDP per kapita ibarat penghasilan bruto (belum potong pajak dan lainnya) per orang dalam 1 tahun. Saya akan memaparkan data yang menurut saya cukup valid, data dari Bank Dunia yang sudah saya cross check dan cocok dengan data ekonomi kita di BPS. Memang mungkin ada beda sedikit dalam penggunaan kurs dolar, ibarat Bank Dunia pakai 14850, BPS pakai 14700.
Kita mulai dengan grafik Ekonomi Indonesia dari jaman baheula. Grafik yang memperlihatkan pentingnya memperhatikan kekuatan mata uang Garuda kita yaitu Rupiah. Jika sampai lemah, kurang fit, kurang olahraga, kurang gizi dan lainnya. Pertumbuhan ekonomi kita seperti tiada gunanya. Tumbuh 5% dalam rupiah tapi habis dihajar dollar karena menguat 10% terhadap rupiah misalnya.
Yes, cukup menarik bandingkan kedua negara ini. Karena basis keekonomiannya sama, sama-sama banyak penduduknya, bisa juga jika bandingkan dengan Thailand apalagi Singapura, kita kalah tajir nanti sakit hati, atau ya karena suka-suka saya, ini blog-blog saya. Saya juga bukan ekonom, gak berani lah bantah statement-statement ekonom di Indonesia, cuma berani nyinyir aja. Pada chart di atas, terlihat ekonomi Indonesia pada awalnya berada di bawah Filipina. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan ekonomi Indonesia menggeliat bertumbuh dengan baik mendekati bahkan menyamai Filipina di tahun 1990an. Ekonomi Indonesia kembali amblas karena krisis ekonomi 1998.
Beranjak dari 1998, Alhamdulillah ekonomi Indonesia kembali menggeliat positif, yang kemudian meroket di jaman pemerintahan Presiden SBY yang mencapai puncaknya 3688 dolar di tahun 2012, setelah itu mengalami trend penurunan. Ibarat kendaraan yang perlu service tune up ditambah dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.
Beranjak dari 2014, Nakhoda pemerintahan Indonesia diambil alih Presiden Jokowi, digalakkan pembangunan infrastruktur dengan utang yang sedikit "kebanyakan", karena 3 tahun utang, nilainya setara dengan 10 tahun utang pada pemerintahan Presiden SBY. Trend pertumbuhan ekonomi juga masih belum menggembirakan, makin turun di 2015. Alhamdulillah selanjutnya mantul ke atas sehingga menggapai puncaknya 3847 dolar di 2017. Lumayan akhirnya berhasil melebihi pencapaian pemerintahan Presiden SBY.
Ok terlepas dari pro kontra kelebihan dan kekurangan masing-masing Presiden, mari kita bahas angka terakhir itu, 3847 dollar per tahun. Yang jika dikalikan kurs 14 ribu sebesar Rp 53 juta setahun. Apakah anda sudah memiliki pendapatan sebesar itu? jika sudah bagaimana rasanya? terasa sudah sejahtera atau belum? Kalau belum, berarti banyak yang harus dikerjakan dan ditingkatkan untuk lebih sejahtera. Dan jangan pula lupakan mereka yang penghasilannya dibawah itu, bahkan sampai masuk garis kemiskinan dengan standard kita di 11 ribu rupiah sehari.
Nah ujug-ujug muncul nih grafik, isinya GDP Indonesia, Thailand, China, Malaysia, Singapura dan Amerika. Disebutkan berdasarkan urutannya dari yang terbawah. Lho koq Filipina ilang, trus koq cari2 pembanding yang membuat Indonesia paling bawah. Ini mau nyinyir ya? Biarin lah suka2 gue.
Atau bermimpi lebih kaya dari Singapura ataupun Amerika? Masak udah jauh-jauh kerja nyata sampe dimari, utang udah ugal-ugalan sampe bikin saya ikut pening. Lalu kita membandingkan Indonesia dengan Argentina, atau yang sudah bangkrut seperti Venezuela?
Jadi, mari kita tingkatkan produktivitas dan kreativitas, kerja pintar, cerdas dan keras, jangan mau kalah sama China. Kita harus minimal lebih kaya dari Malaysia. Penting itu, capek lah selalu kalah tajir dari Malaysia. Lalu bagaimana caranya lebih kaya dari Singapura dan Amerika. Hmm kalau itu cukup kita sekolahkan anak keturunan kita di sekolah-sekolah terbaik, biarkan mereka yang memikirkan itu nanti, kita cukup mencoba untuk berani bermimpi.
Ketertarikan saya membahas ekonomi tidak lepas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal ini menurut saya penting untuk kita hadapi, dan sikapi bersama. Tidak bisa lho kita anggap nothing, toh buktinya tim ekonomi pemerintah "panik" juga ketika tembus 15 ribu, bukan masalah 15 ribunya, tapi fakta-fakta internal yang mendukung hal itu seperti defisitnya neraca dagang kita, dan juga implikasi ekonomi ke depan dalam hal ini inflasi. Cocok lah sama salah satu urusan kita masing-masing yaitu menyelamatkan ekonomi keluarga.
Jika kita cinta rupiah tapi rupiah melemah, makin berat loch memenuhi keinginan kita membeli Iphone X atau Galaxy Note 9. Lho koq contohnya beli Smartphone Mahal? karena kalau contohnya beli telur atau ayam, pasti ada yang kontra, bilang gak ada ngaruhnya sama dolar lah, bilang orang kaya tapi pura-pura miskin lah, dan lain-lain. Saya menikmati suasana pro dan kontra, tapi malas menghadapinya. Hahaha.
Baik, bahasan kita di tulisan ini fokus terhadap GDP per kapita dalam US Dollar. Nyambung ya dengan melemahnya rupiah, nyambung juga dengan bahasan ekonomi keluarga, karena GDP per kapita ibarat penghasilan bruto (belum potong pajak dan lainnya) per orang dalam 1 tahun. Saya akan memaparkan data yang menurut saya cukup valid, data dari Bank Dunia yang sudah saya cross check dan cocok dengan data ekonomi kita di BPS. Memang mungkin ada beda sedikit dalam penggunaan kurs dolar, ibarat Bank Dunia pakai 14850, BPS pakai 14700.
Kita mulai dengan grafik Ekonomi Indonesia dari jaman baheula. Grafik yang memperlihatkan pentingnya memperhatikan kekuatan mata uang Garuda kita yaitu Rupiah. Jika sampai lemah, kurang fit, kurang olahraga, kurang gizi dan lainnya. Pertumbuhan ekonomi kita seperti tiada gunanya. Tumbuh 5% dalam rupiah tapi habis dihajar dollar karena menguat 10% terhadap rupiah misalnya.
Lho koq bandingkan dengan Filipina?
Yes, cukup menarik bandingkan kedua negara ini. Karena basis keekonomiannya sama, sama-sama banyak penduduknya, bisa juga jika bandingkan dengan Thailand apalagi Singapura, kita kalah tajir nanti sakit hati, atau ya karena suka-suka saya, ini blog-blog saya. Saya juga bukan ekonom, gak berani lah bantah statement-statement ekonom di Indonesia, cuma berani nyinyir aja. Pada chart di atas, terlihat ekonomi Indonesia pada awalnya berada di bawah Filipina. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan ekonomi Indonesia menggeliat bertumbuh dengan baik mendekati bahkan menyamai Filipina di tahun 1990an. Ekonomi Indonesia kembali amblas karena krisis ekonomi 1998.
Beranjak dari 1998, Alhamdulillah ekonomi Indonesia kembali menggeliat positif, yang kemudian meroket di jaman pemerintahan Presiden SBY yang mencapai puncaknya 3688 dolar di tahun 2012, setelah itu mengalami trend penurunan. Ibarat kendaraan yang perlu service tune up ditambah dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.
Beranjak dari 2014, Nakhoda pemerintahan Indonesia diambil alih Presiden Jokowi, digalakkan pembangunan infrastruktur dengan utang yang sedikit "kebanyakan", karena 3 tahun utang, nilainya setara dengan 10 tahun utang pada pemerintahan Presiden SBY. Trend pertumbuhan ekonomi juga masih belum menggembirakan, makin turun di 2015. Alhamdulillah selanjutnya mantul ke atas sehingga menggapai puncaknya 3847 dolar di 2017. Lumayan akhirnya berhasil melebihi pencapaian pemerintahan Presiden SBY.
Ok terlepas dari pro kontra kelebihan dan kekurangan masing-masing Presiden, mari kita bahas angka terakhir itu, 3847 dollar per tahun. Yang jika dikalikan kurs 14 ribu sebesar Rp 53 juta setahun. Apakah anda sudah memiliki pendapatan sebesar itu? jika sudah bagaimana rasanya? terasa sudah sejahtera atau belum? Kalau belum, berarti banyak yang harus dikerjakan dan ditingkatkan untuk lebih sejahtera. Dan jangan pula lupakan mereka yang penghasilannya dibawah itu, bahkan sampai masuk garis kemiskinan dengan standard kita di 11 ribu rupiah sehari.
Nah ujug-ujug muncul nih grafik, isinya GDP Indonesia, Thailand, China, Malaysia, Singapura dan Amerika. Disebutkan berdasarkan urutannya dari yang terbawah. Lho koq Filipina ilang, trus koq cari2 pembanding yang membuat Indonesia paling bawah. Ini mau nyinyir ya? Biarin lah suka2 gue.
Logika saya simpel, setelah kita sukses lebih kaya dari Filipina. Masak kita gak ada rencana ingin lebih kaya dari Thailand, China, Malaysia?
Atau bermimpi lebih kaya dari Singapura ataupun Amerika? Masak udah jauh-jauh kerja nyata sampe dimari, utang udah ugal-ugalan sampe bikin saya ikut pening. Lalu kita membandingkan Indonesia dengan Argentina, atau yang sudah bangkrut seperti Venezuela?
Jadi, mari kita tingkatkan produktivitas dan kreativitas, kerja pintar, cerdas dan keras, jangan mau kalah sama China. Kita harus minimal lebih kaya dari Malaysia. Penting itu, capek lah selalu kalah tajir dari Malaysia. Lalu bagaimana caranya lebih kaya dari Singapura dan Amerika. Hmm kalau itu cukup kita sekolahkan anak keturunan kita di sekolah-sekolah terbaik, biarkan mereka yang memikirkan itu nanti, kita cukup mencoba untuk berani bermimpi.


Post a Comment